Naning

Australia Day

Australian Day


Sedikit berbeda dengan tahun lalu yg hanya kami ramaikan dg kumpul bareng tmn2 di Commonwealth Ave. Sejak sore, Tahun ini kami turut meramaikan (menikmati perayaan) Australian Day sejak pagi. 

Kami pergi ke National Musium krn memang digelar banyak acara, setelah itu baru lanjut ke Commonwealth Ave u menyaksikan firework pukul 21.00. 

Karena kami sampai area pusat acara sdh agak terlambat, +- pukul 19.00, parkiran yg dekat sdh penuh, jd harus rela cari parkir agak jauh. Alhamdulillah, dapat di depan National Library. Daaan... jalan menyusuri lake Burley Griffin ( lebay) intinya jalan agak jauuuuuh saja. Si mas n Adek nggak mau ikut arahan emaknya, mereka mesti kumpul dg teman2nya yg lain..akhirnya seperti biasa, emak mengalah
Alhamdulillah bs bertemu dg teman- temannya, makan cilok nya mba Rani, Es nya mba Efa Refnita dan cemilan lainnya
..
#our second Australian Day.

Baca selengkapnya....

oleh: Herman


Dalam perjalanan sepulang dari sekolah anak perut ini terasa mules tak tertahankan. Sy mampir di pertokoan sebuah Suburb untuk menggunakan toilet umum.
Begitu tombol hijau dipencet, pintu terbuka. Ketika di dalam, pintu ditutup dan terdengar suara, "your maximum use is five minutes."
"Waduh, perut melilit begini cuma diberi waktu lima menit," sy nyeletuk dalam hati.
Lalu saya pencet lagi tombol dari dalam untuk membuka dan kemudian menutup lagi pintunya. Terdengar lagi suara, "your maximum use is ten minutes."
Hati pun lega. Hajat pun tertunaikan pas banget dalam waktu 10 menit yang ditandai dengan lampu kecil di dekat pintu berubah dari merah menjadi hijau. Artinya kunci pintu sudah terbuka secara otomatis.
Tak terbayangkan jika ada seseorang yang juga kebelet lalu membuka pintu dari luar secara tiba-tiba karena lampu hijau pertanda toilet kosong, sementara saya masih berada di dalam sedang membuang hajat.


Baca selengkapnya....
Herman

Kerukunan di Klungkung Bali



Saya sekeluarga beruntung dapat berlibur bersama di Bali pada 25 - 29 April 2013 lalu. Bagaimana tidak, di Bali kami menginap di rumah sahabat istri saya Naning semasa sekolah di Solo dulu. Letaknya di Kabupaten Klungkung, agak ke timur (atau tepatnya di Tenggara?) pulau Dewata itu. Ia dan suami beserta anaknya menyambut kami dengan hangat seperti kedatangan keluarga dari jauh. Karena kesibukan saudara kami ini yang berniaga dari pagi hingga petang, maka mereka tak sempat menemani kami berkeliling Bali. Sebagai gantinya, mereka menyediakan sebuah mobil kijang Innova lengkap dengan sopirnya. Ini fasilitas luar biasa untuk pelancong seperti kami.

Namanya Ine. Orangnya cantik dan berkerudung. Tingginya tak kurang dari 160 sentimeter.
Ia keturunan Cina Bali dan Bandung. Suaminya Sandi, orang Lombok asli. Mereka memiliki dua orang putra, yang tertua baru setahun ini nyantri di Banyuwangi, serta anak terakhir ada di rumah dan duduk di kelas tiga sekolah dasar. Mereka hangat. Kami merasa seperti sedang mengunjungi keluarga di pulau ini.




Kampung Lebah, kelurahan Semarapura, merupakan pusat kota di Kabupaten Klungkung. Kampung Lebah merupakan salah satu dari enam kampung yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Muslim disini tak hanya pendatang, banyak juga yang merupakan orang Bali asli.Herman, orang yang membawa mobil innova yang kami tumpangi berkeliling Bali adalah salah satu orang Bali asli. Tidak seperti orang Bali yang identik memeluk agama Hindu, mas Herman dan keluarganya bahkan memeluk Islam sejak dulu kala. Kedua anak kami, Zahid dan Fatih, senang bersenda gurau dengannya. Apalagi nama panggilannya sama dengan saya.

Hari raya nyepi merupakan hari suci bagi umat Hindu di Bali. Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya ini sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak boleh ada aktivitas. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, kecuali rumah sakit. Bandar Udara Internasional pun tutup. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan)), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).

Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru.

Pada hari nyepi, umat Islam tetap melaksanakan aktivitasnya sehari-hari namun membatasi diri supaya tidak mengganggu nyepi umat Hindu. Suara adzan tak dikumandangkan dengan pengeras suara, tidak menyalakan lampu dan alat elektronik yang dapat menimbulkan suara, serta aktivitas lainnya.

Setiap kampung di Bali memiliki tenaga keamanan masing-masing. Namanya pecalang. Ada kesepakatan di antara pecalang di kampung muslim dan umat Hindu. Daripada terjadi bentrok antara pecalang dengan penduduk Muslim yang tidak mematikan lampu atau menjalankan aktivitas yang mengganggu, pecalang dari kampung Muslim sendiri yang melakukan operasi pengawasan rumah-rumah penduduk untuk memastikan bahwa tidak ada aktivitas yang terjadi yang menodai perayaan Nyepi. Jika pecalang Muslim
masih melihat ada lampu yang menyala, alat elektronik yang bersuara, atau aktivitas lainnya, maka pecalang kampung sendiri yang akan menegur warga dan menghentikan aktivitas tersebut. Hal ini dinilai baik supaya tidak ada bentrokan yang berbau agama.

Ada pengecualian bagi warga Muslim di Bali selama Nyepi. Antara lain adalah untuk orang lanjut usia, keluarga yang memiliki bayi, atau ada kematian, yang membutuhkan penerangan dan aktivitas di dalam rumah. Begitu juga dengan ibadah di masjid, Muslim tetap dapat ke masjid namun tidak membuat suara-suara yang "mengganggu". Kesepakatan ini kemudian diketahui dan dipatuhi oleh kedua pemeluk agama yang hidupnya mberdampingan ini.

Pernah ada bentrok fisik antar-warga yang kelihatannya yang berbau agama. Persoalannya sepele, seorang pemuda mabuk setelah meminum minuman keras. Lalu mengganggu pemuda lain yang kebetulah beragama berbeda. Akhirnya timbul perkelahian. Menghadapi ini, warga masing-masing umat memahami akar persoalan sehingga tidak sampai mengakibatkan kerugian yang lebih fatal.

Satu hal yang menarik selama kami berada di Semarapura. Saat sembahyang Subuh di Masjid, saya mengamati sepeda motor diletakkan begitu saja di pinggir jalan yang masih sepi. Bahkan tidak mengunci stangnya. Mobil-mobil pun tidak sedikit yang diparkir di pinggir jalan. Semuanya aman. Tidak ada pencurian kendaraan bermotor. Mas Sandi mengatakan kalau di kampung semuanya saling menjaga keamanan. Tidak ada pencurian, baik di kampung Muslim maupun di kampung yang mayoritas dihuni umat Hindu. Buat saya, ini hal yang luar biasa. Jangan coba-coba kalau mau meletakkan sepeda motor di pinggir jalan di tempat tinggal kami di Bogor, belum lima menit sepeda motor itu pun dapat dipastikan "berpindah tangan".

Jika di waktu subuh suara adzan berkumandang membangunkan warga, maka tepat pukul enam pagi suara alunan alat musik Bali menandai ibadah pagi umat Hindu di sini. Alunan musik yang sama juga terjadi di pukul enam petang. Semua saling tahu. Semua saling menoleransi.

Saya menemui satu istilah baru, yakni Rukun Umat. Mungkin ini semacam Rukun Warga (RW) kalau di pemukiman warga di pulau Jawa. Mungkin karena di perkampungan Muslim, maka istilahnya mejadi Rukun Umat. Seperti RW, Rukun Umat pun ada yang menjadi ketuanya. Segala hal yang berkaitan dengan kewargaan diatur di dalam Rukun Umat. Tentunya supaya kerukunan dapat berlangsung dengan baik.

Perbedaan agama tidak menjadi hambatan masyarakat dalam membangun kehidupan bersama. Hanya saja peristiwa bom Bali yang terjadi pada tahun 2002 dan 2005 lalu sempat membuat hubungan antar umat dua agama disini menjadi tegang. Umat Islam merasa terpojok karena dua kejadian itu.

Sekarang, lambat laun hubungan menjadi harmonis. Aktivitas sehari-hari berjalan lancar. Warga pemeluk dua agama ini menjadi biasa bersosialisasi satu sama lain. Hal yang menonjol di sini adalah warga Muslim mengambil peran di dunia niaga. Praktis aktivitas jual-beli dikuasai kalangan Muslim. Sementara instansi pemerintahan mayoritas diisi oleh umat Hindu. Pada umumnya, kerukunan menjadikan semua aktivitas bejalan lancar. Semoga ini merupakan kondisi yang terus terpelihara, sebab semua orang membutuhkannya.

Baca selengkapnya....
Herman

Anak kami sudah dua

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Anak kami sudah dua, dan dua hari lalu kami merayakan kehadiran anak-anak kami yang sudah menginjak usia 6 tahun dan 2 tahun. Laki-laki semua. Zahid lahir pada 1 Juli 2005 dan adiknya lahir pada 2 Juli 2009.

Allah SWT mendengarkan doa saya. Sejak kelahiran Zahid, saya dan Naning telah berencana untuk menjarangkan kelahiran anak kami berikutnya. Kami ingin supaya kami dapat memenuhi kebutuhan keluarga dengan lebih aman secara ekonomi. Kami faham bahwa keluarga belum begitu mapan. Bukan kami tak yakin bahwa rezeki sudah ditentukan oleh Sang Maha Kaya. Lebih kepada mengelola keluarga saja.

Di hampir setiap doa yang saya panjatkan setiap habis sembahyang selalu saya mohonkan kepada Sang Khalik supaya anak kami dijarangkan kelahirannya paling tidak 4 tahun sekali. Pada saat Zahid sudah berusia 2 tahun, Naning ingin sekali memiliki anak lagi. Ia bilang, mumpung masih muda, sebab kalau usia sudah di atas 30 tahun kurang baik seorang ibu melahirkan lagi. Kontrasepsi yang dijalani yang digunakan saat itu masih untuk istri. Tapi pada akhirnya saya memahami kalau itu tidak baik, sebab bagaimana pun kontrasepsi dalam bentuk suntikan itu juga merupakan benda asing yang sangat tidak baik untuk tubuh perempuan. Terbukti, saat kontrasepsi ini dihentikan supaya Zahid segera punya adik, Naning mengalami menstruasi tidak teratur. Pendarahan bahkan flek terjadi. Saya merasa bersalah. Semestinya yang menggunakan kontrasepsi adalah saya selaku laki-laki.

Hampir setahun kami berusaha. Konsultasi dokter ahli memakan tak sedikit biaya. Tapi namanya juga usaha. Alhamdulillah berkat usaha dan doa kami, orang tua dan orang-orang sekeliling yang sangat mencintai kami, akhirnya Naning hamil juga. Di masa-masa awal kahamilan tidak banyak kendala selain Naning yang diminta untuk tidak memforsir diri dalam bekerja.

Memasuki
bulan ketujuh usia kandungan, kehamilan Naning mulai mengkhawatirkan. Berat badan calon adiknya Zahid dinilai dokter kurang dari seharusnya. Mesti dinaikan lagi. Hamil memang hal mudah bagi perempuan. Kadang diterpa malas makan makanan tertentu yang justru baik untuk calon anak di kandungan. Atau kecape'an dan hal-hal lainnya. Sesuai saran dokter, es krim jadi sering dikonsumsi. Juga asupan-asupan lain supaya bayi kami lahir dengan sehat. Kami beruntung, dokter yang memeriksa kahamilan secara rutin adalah orang tua murid Naning. Dokter ini baik sekali. Sampai usia kehamilan 8 bulan, pemeriksaan secara lebih teliti dilakukan. Bahkan ketika tempat praktik di kediaman dokter tidak memiliki USG 4 dimensi, kami pun diminta datang ke tempat praktiknya yang lain di sebuah rumah sakit besar di Jakarta Pusat.

Pemeriksaan USG 4 dimensi menguatkan pendapat dokter kalau anak kedua kami harus segera dikeluarkan meski usianya belum 9 bulan di dalam kandungan. Tidak ada pilihan lain karena air ketuban pun sudah mulai berkurang. Naning masih bersikukuh kalau anak kami akan lahir dengan sehat. Doa ditambah, shalat diperpanjang, mengaji pun lebih dari biasanya. Istri saya yang begitu solihah menyerahkan semuanya pada kuasa Allah SWT. Saya terpana.

Pada akhirnya, dokter meminta kami datang untuk memeriksakan kandungannya sekali lagi ke sebuah rumah sakit di daerah Cibubur. Setiba di sana pada malam hari di tanggal 1 Juli 2009, dokter memutuskan kalau anak kedua kami harus segera dikeluarkan. Semua bidan dan perawat di rumah sakit bersiap siaga. Naning tetap memilih untuk melahirkan secara normal, bukan operasi caesar.

Dokter masih mengusahakan supaya kelahiran ini tidak melalui operasi. Pada malam itu akhirnya mulai pasang balon melalui jalan lahir sebab bukaannya tidak bertambah besar. Rasanya sakit sekali. Pedih. Naning menangis. Seperti pemeriksaan sebelumnya, Naning mengalami pucat dan badan lemas. Bantuan oksigen diberikan. Hingga besok paginya, sakit terus bertambah. Jalan lahir semakin besar.

Pagi itu, hari kedua di bulan Juli 2009, rasa sakit yang Naning rasakan ada hasilnya. Anak kami lahir juga meski dengan susah payah. Alhamdulillah lahir dengan selamat. Saya menyaksikan langsung. Lengan saya ikut sakit karena menjadi pegangan Naning selama ia merasakan kesakitan. Luar biasa penderitaan seorang ibu ketika melahirkan. Karena itu pula barangkali agama Islam mewajibkan seorang anak untuk sangat menghormati ibunya. Posisi Ibu bahkan lebih mulia daripada ayah menurut Rasullullah SAW.


Anak kedua kami lahir pada 2 Juli 2009. Adik dari Izzuddin Zahid Muhammad Rasyiq ini kami namai Muhammad Ziyadh Al Fatih. Dalam keluarga Saya dan Naning tidak ada ritual perayaan ulang tahun. Tapi tanggal 3 Juli lalu Naning mengajak saya untuk menyenangkan anak-anak kami. Hari itu hari Sabtu. Saya dan Naning libur kerja. Kami merayakan kebahagiaan kami karena kehadiran dua anak kami ini. Sebuah pusat belanja yang ada permainan untuk anak-anak, juga restoran dengan motto "Rasa bintang lima, harga kaki lima" yang tak seberapa jauh dari kediaman kami, menjadi tempat perayaan sederhana itu.

Kami berdoa, semoga kehidupan kami selalu bahagia. Amin.

Baca selengkapnya....
Herman

Berkenalan dengan Pilot Mandala Air

Sepanjang perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta hingga ke Bengkulu, anak pertamaku ini tidak bisa berhenti bicara. Banyak tanya dan banyak komentar. Hal semacam ini sering membuatku kelabakan kalau tak siap untuk meladeni semua muntahan pertanyaan dan komentarnya tentang apapun. Ibarat senapan serbu tentara a la film Rambo di tahun 80-an: tak henti-henti. Ia ingin tahu, di tengah hujan lebat kenapa pesawat yang meluncur cepat untuk take off seperti mengeluarkan asap yang begitu banyak di belakangnya. Atau, kenapa kami harus naik bis menuju pesawat yang sedang parkir agak jauh dari tempat boarding? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Zahid memang aktif nogoceh sejak ia mulai bisa bicara pada usia setahun. Aku ingat, pada saat baru pindah kontrakan yang kami tempati sekarang, tetangga se-RT banyak yang memperhatikan kami berdialog. Mungkin aneh bagi mereka ada anak setahunan sudah banyak berdialog seperti orang dewasa. Pernah saat baru beberapa hari menempati rumah tinggal ini, seorang tetangga memperhatikan dari loteng rumahnya. Kami yang sedang jalan-jalan pagi tak menyadari kalau ada yang memperhatikan.

Di pesawat sepanjang penerbangan menuju Bengkulu, pertanyaan-pertanyaan dan komentar Zahid menarik perhatian pramugari. Aku sendiri harus menjelaskan banyak hal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan. Sebenarnya, Zahid sudah dua kali pulang ke Bengkulu. Pertama saat ia masih berusia setahun pada Agustus 2006. Kedua, saat lebaran tahun 2007 ketika usianya menginjak dua tahun. Ia tidur saat di pesawat hingga ia pun belum pernah mengamati awan, langit dan segala hal di pesawat saat sedang terbang. Mudik kali ini membuatnya memiliki kesempatan untuk mengetahui banyak hal saat berada di langit.

Saat landing di bandara Fatmawati Bengkulu, aku sengaja mengajak Zahid beranjak dari tempat duduk kami supaya bisa menjelaskan tentang tempat pilot bekerja serta menyapa pramugari yang bertugas di pewasat. Mendekati pintu keluar di bagian depan, kusampaikan ke salah satu pramugari kalau Zahid ingin tahu tempat pilot 'menyetir' pesawat. Tak dinyana, pramugari justru langsung menghubungi pilot dan mengenalkan Zahid padanya. Zahid masuk ke kokpit di mana pilot berada. Pilotnya yang bernama Kapten Agus justru senang berkenalan dengan Zahid.

"Mau foto gak?" tanya pilot itu sambil membuat gerakan seperti sedang memotret ke arahku. Dengan nada sedikit menyesal kusampaikan kalau sedang tak membawa kamera.

"Sayang banget, belum tentu loh pilotnya mau berbaik hati begini...." kata pramugarinya.

Yup, aku memahami bagaimana pilot tentunya akan menghindari hal semacam perkenalan dengan anak kecil yang banyak ingin tahu macam Zahid ini. Tentunya langka pilot yang mau meluangkan waktu kerjanya. Kesempatan langka yang diperoleh Zahid ini sangat mungkin karena si pramugari mengamati Zahid yang terus bicara sejak awal naik pesawat. Karena keingintahuan Zahid untuk tahu kokpit yang jadi tempat pilot bekerja, maka pramugari langsung mengenalkannya kepada pilotnya.

Aku memahami cerita pramugari itu kalau jarang sekali pilot mau berkenalan, berdialog, dan mau berfoto dengan anak kecil seperti Zahid. Tapi, apa boleh buat, perkenalan Zahid dan pilot Mandala Air itu tak dapat diabadikan dengan foto. Demi kepraktisan barang bawaan, kamera digital tak kubawa.

"Ada kamera Bucik Neng, jadi kamera kita tak pelu dibawa" kata istriku saat menyiapkan segala sesuatu sebelum berangkat menuju bandara.

Setibanya di rumah Nenek dan Datuk, aku ceritakan pada Bucik Neng tentang pengalaman Zahid tadi. Juga menelpon ibunya di rumah di Bogor. Semuanya merasa 'eman' kenapa perkenalan Zahid dengan pilot serta kesempatan masuk ke kokpit tidak difoto. Ya... jadi pelajaran saja, lain kali mesti bawa kamera untuk mengabadikan pengalaman anak.

Sangat mungkin, pengalaman masa kecil memiliki arti yang luar biasa bagi anak kita pada masa mereka telah dewasa. Tak terkecuali pengalaman Zahid saat ikut aku pulang ke Bengkulu pada 24 - 26 Januari 2010 lalu.

Baca selengkapnya....

Blogger Templates by Blog Forum