Herman

Ragam Pitulasan

Ada banyak cara untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia setiap tahunnya. Mulai dari melakukan kontemplasi dan diskusi tentang perkembangan bangsa dan negara ini sejak 17 Agustus 1945 hingga sekarang, menyelenggarakan berbagai pertandingan dan perlombaan untuk bersuka ria sebagai bangsa yang telah "merdeka", bahkan ada yang menganggapnya biasa-biasa saja.

Di lingkungan tempat tinggal saya, desa Ciangsana, Gunung Puteri, Kabupatern Bogor, seperti biasanya ada perayaan dengan pertandingan dan perlombaan, serta panggung hiburan kesenian. Di RW 02 tempat kami tinggal, puncak acara peringatan hari kemerdekaan ini berlangsung pada 16 Agustus lalu, yang kebetulan bertepatan dengan hari Minggu. Pada sore hari dengan matahari yang masih terik, masyarakat dari RT 01 hingga RT 11 menyertai anak-anak yang berlomba pawai mengelilingi separoh komplek perumahan yang menjadi wilayah RW 02.

Pawai dilakukan dengan rombongan dari masing-masing RT berbaris menurut urut RT di jalan utama sebelah selatan yang terletak di wilayah RT 11. Pawai ini sesungguhnya diikuti anak-anak dari usia sekitar 3 tahun hingga usia SMA. Mereka berbaris dengan atribut pakaian yang beraneka macam, dari pakaian adat maupun seragam putih-putih, dari yang membawa cangkul a la seorang petani dengan kumis palsu menghiasi, kebaya, bahkan dengan sepeda hias dan seragam tentara seperti anak saya dan beberapa temannya sebagaimana permintaan panitia di RT. Orang tua hanya mengiringi barisan, terutama untuk mengawasi anak-anaknya yang masih kecil yang kemungkinan sulit untuk diarahkan dan tentunya akan membuat kacau barisan. Acara ini menjadi kesempatan saling menyapa antartetangga bahkan sesama orang tua yang berlainan RT. Satu bentuk suka cita karena ada kemeriahan di komplek perumahan. Entah mengapa, keramaian sejak dulu selalu merupakan satu hal yang teramat disukai. Seperti suasana keheningan desa yang ditinggalkan para pemudanya karena lebih memilih keramaian di kota-kota.

Di saat semua peserta pawai dari masing-masing RT merapihkan barisannya, satu kelompok kesenian Reog memainkan atraksi tari-tariannya. Kebanyak penghuni kawasan kami berasal dari Jawa termasuk Jawa Timur. Pertunjukan Reog menjadi hiburan menarik buat semua yang hadir. Kabar beberapa waktu lalu yang menyebutkan kalau Reog diakui oleh pemerintah Malaysia sebagai kesenian asli dari mereka telah membuat berang warga Ponorogo yang merupakan asal kesenian ini. Masyarakat Indonesia pun merasa tersentil rasa kepemilikan kesenian yang memang belakangan kurang mendapat perhatian. Reog mendapat sambutan hangat pada perayaan kemerdekaan tahun ini di tempat tinggal kami.

Setelah melewati jalan-jalan pinggiran hingga ke tengah perumahan, acara pawai diakhiri di dekat gerbang masuk komplek kami. Di sana, bersebelahan dengan pos satpam, terdapat lapangan bola volly. Pertunjukkan reog diteruskan untuk menghibur semua penonton yang mengelilingi lapangan. cukup ramai. Bahkan di salah satu sisi lapangan adalah tebing yang berbatasan dengan pemukiman penduduk desa sebelah perumahan dipenuhi oleh mereka yang menonton dengan leluasa ke seluruh lapangan. Di sela-sela pertunjukan reog itu pula diumumkan para pemenang berbagai macam lomba dan pertandingan di tingkat RW, mulai dari pertandingan bulu tangkis, bola volly, catur, futsal, lomba mewarnai untuk anak-anak, dan bentuk kompetisi lainnya, yang sudah terselenggara sejak awal Juli lalu. Perlombaan pawai menjadi penutup acara sesorean itu. Setelah semua hadiah di selesai dibagikan, para pemain reog mulai mengusung semua peralatan kembali ke rumah. Semua peserta pawai, anak dan orang tua juga mulai bergerak pulang. Anak-anak senang, meski tak menang ada hadiah makanan dan minumana ringan disediakan oleh panitia penyelenggara di tingkat RT.

Pada sore hari esoknya, 17 Agustus, ada perlombaan di tingkat RT 08 tempat kami tinggal. Semua anak-anak dikumpulkan untuk berbagai macam perlombaan: membawa kelereng dalam sendok, makan pilus dalam sebuah piring, mengambil uang logam yang menempel pada buah semangka, memecah balon yang berisi air dengan menggunakan jarum, memasukkan pensil ke dalam botol dan beberapa permainan lainnya.

Acara perayaan kemerdekaan ini melahirkan berbagai hiburan tahunan dalam masyarakat. Berbagai macam perlombaan dan pertandingan menjadi tontonan menarik, juga menjadi ajang menunjukkan kemampuan pengusaan permainan tertentu. Tapi, ada yang luput kami tonton kali ini, yakni perlombaan panjat pinang. Perlombaan ini hampir selalu ada di setiap daerah. Semakin tahun terlihat semakin menarik saja hadiahnya. Sayang, karena harus mencari semangka kesukaan anak kami, hiburan satu ini jadi terlewati.

Baca selengkapnya....
Herman

Wakil Rakyat

Memiliki anak yang sedang lucu-lucunya memang satu hal yang membahagiakan. Saya mengalaminya. Kelucuan dalam dialog-dialog saya dengan Zahid maupun Zahid dan ibunya seringkali terjadi. Pertanyaan-pertanyaan yang lahir dari rasa ingin tahu anak terhadap sesuatu memang harus dijawab dengan hati-hati, seperti kebanyakan pakar parenting selalu katakan. Masa 5 tahun pertama usia yang katanya adalah golden age, memang betul-betul menunjukkan kepada kami sebagai orang tua bahwa anak mampu menyerap apapun yang ia ketahui dari luar dirinya.

Tiga hari lalu Zahid menyanyikan salah satu lagu Iwan Fals: Wakil Rakyat. Entah dari mana ia mendengarkan lagu ini, karena seingat saya sekitar dua hingga tiga tahun terakhir saya nyaris tak pernah memutar lagu-lagu penyanyi idola saya itu di rumah. Hari itu Zahid menyanyi:

Wakil Rakyat seharusnya merakyat
jangan tidur wakt sholat...


Saya tertegun dan tertawa sendiri. Lirik pertama itu disuarakan persis sama seperti Iwan Fals menyanyikan. Tetapi lirik "jangan tidur waktu shalat" adalah sesuatu yang baru pertama kali saya dengar.

Minggu pertama hingga ketiga Maret lalu, karena tak ada pengasuh di rumah, Zahid pulang ke desa mbahnya di Boyolali. Saya memperkirakan, kemungkinan ia mendengarkan lagu Iwan Fals yang di putas oleh Pakliknya di sana. Dan belakangan ini di saat menjelang pemilu, radio di rumaha kami--maaf, kami tak memiliki TV--memang sering menyiarkan perkembangan calon wakil rakyat yang sedang berkompetisi. Dari sanalah kemungkinan besar lagu Wakil Rakyat itu dirubah sendiri oleh anak kami.

Semoga wakil rakyat yang terpilih saat pemilu esok pagi betul-betul mewujudkan wakil rakyat tak hanya yang tidak tidur waktu sidang, namun juga tidur waktu shalat. Amin.

Keterangan: foto gedung DPR/MPR bersumber dari sini.

Baca selengkapnya....
Naning

Bertemu Abang dan Ngah



Zahid bersama ayah dan ibu sedang berlibur di Bogor. Berangkat dari rumah di Ciangsana kemarin Maghrib. Di Bogor mengunjungi abang Fadlan dan Ngah Farhan yang datang dari Bengkulu. Bogor adalah rumah kakek-nenek dari Abang dan Ngah. Makdang--ibunya--asli Bogor. Ayahnya asli Bengkulu, kakak dari Ayah Zahid.

Pagi ini sudah lari-lari sama Abang dang Ngah di depan rumah. Senang rasanya. Insya Allah siang nanti akan jalan-jalan ke taman Angsa.


Ngah Farhan, Abang Fadlan, Abang Abi, dan Zahid (di belakang)



Zahid sedang main sama Ngah Farhan


Baca selengkapnya....
Herman

Selamat Berpuasa Ramadhan

Saudara-saudara semua,

Kami ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan untuk Anda yang menjalaninya. Semoga puasa kali ini menjadi masa penggemblengan diri bagi kita untuk bisa menjadi manusia yang selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Semoga Ramadhan kali ini benar-benar membuat kita menjadi lebih manusiawi, yang menyadari hakikat diri sebagai manusia ciptaan-Nya di dunia. Semoga Allah memudahkan dan menerima segala amal ibadah kita selama bulan Ramadhan kali ini. Amin.

Saya meminta maaf lahir dan batin untuk semua kesalahan yang pernah saya lakukan pada diri Anda yang sangat mungkin menorehkan luka.

Baca selengkapnya....
Herman

Dunia anak kini

Berbalut baju ketat berbahan kaos, dan celana panjang yang semuanya melekat ke kulit menyelimut seluruh badan. Semuanya berwarna merah jambu. Badannya dibungkus lagi dengan rompi berwarna biru gelap serta rok mengembang setengah paha, semuanya berbahan jeans. Dikepala, terikat slayer segitiga berwarna krem membuat rambut panjang sebahu lebih itu terarah lurus ke belakang. Sepatunya hak tinggi berwarna putih. Usianya saya terka sekira antara lima hingga tujuh tahun. Lincah nian ia menyanyi di atas panggung itu.

Masih ada 4 orang anak lagi yang menyanyi di panggung khusus pertunjukan di Istana anak, Taman Mini Indonesia Indah. Tempat ini pula yang menjadi pusat perayaan Hari Anak Nasional yang berlangsung pada 23 Juli lalu. Kebetulan saya bersama anak dan istri sedang menikmati miniatur kawasan Nusantara yang diberi nama Taman Mini Indonesia Indah. Anak dan istri menikmati fasilitas bermain di Istana Anak, besama tetangga sekaligus kawan yang juga pasangan muda Didin-Siti yang membawa serta anak mereka Aqila, yang baru setahun usianya. Menunggu mereka manaiki kereta mini, saya membaca-baca sambil termangu-mangu melihat anak-anak dengan suara merdu menyanyikan lagu-lagu yang mereka hafal lengkap dengan performance di atas panggung begitu sempurna.

Anak-anak itu, penyanyi cilik yang mungkin sekali jebolan Idola Cilik yang ditayangkan di sebuah statisiun TV nasional, satu persatu menyanyi. Kalau tidak salah, di hari Ahad lalu masing-masing mereka membawakan 3 lagu. Terus terang, suara mereka bagus, penampilan mereka betul-betul bak penyanyi profesional. Saya berpiikir, entah berapa biaya yang orang tua mereka keluarkan untuk mencetak anak-anak itu menjadi penyanyi. Saya mengaguminya sekaligus termangu pada apa yang saya lihat. Mereka ini, semuanya menyanyikan lagu-lagu dewasa. Kata kuncinya antara lain cinta, rindu, mesra, dan sejumlah kata-kata sejenisnya.

Saya ketinggalan dalam mengamati lagu-lagu anak muda saat ini. Satu dua nama penyanyi dan judul lagu saya pernah dengar. Tapi kalau dicocokkan antara penyanyi dan lagunya, mungkin delapan puluh persen pastilah akan saya sebutkan dengan tidak cocok. Pertama, karena saya tidak memiliki TV di rumah, jadi kurang informasi yang sifatnya audio visual. Di rumah ada koran dan di kantor saya mendapat pasokan berita melalui teknologi RSS feed beberapa situs berita lewat Thunderbird di komputer. Kedua, saya tidak begitu suka mengamati kehidupan para artis yang menjadi idola masyarakat lewat jejalan-jejalan infotainment yang menjamur nyaris di setiap stasiun TV di tanah air. Praktis, untuk hal penyanyi, mungkin saya hanya menghafal dengan baik beberapa lagu generasi Kla Project atau Iwan Fals.

Tapi anak-anak yang menyanyi di panggung di Taman Mini itu, saya perhatikan, begitu hafal lagu yang lagi tren saat ini. Salah satu yang saya ingat, Mahluk Tuhan yang Paling Seksi yang dinyanyikan oleh Mulan Jameela. Juga beberapa--kalau saya tidak salah menghafal--lagu kelompok musik Ungu.

Kelihaian dan kepiawaian menyanyikan lagu-lagu itu membuat saya tertarik untuk mengamati. Di kiri kanan, di belakang dan depan saya, bahkan beberapa balita yang mengitari panggung dengan ditemani ayah dan ibu mereka, begitu fasihnya mengiringi sang penyanyi. Mereka melantunkan lagu yang sama. Gaya bernyanyi yang sama dengan penyanyi yang sama, entah Mulan Jameela ataupun Ungu. Inikah potret dunia anak saat ini? Itukah lagu-lagu yang menggambarkan kehidupan mereka?

Saya tidak tahu apakah masih ada anak-anak yang asyik bermain kelereng sepulang sekolah bersama teman-teman mereka. Saya juga tidak melihat apakah putri-putri kecil itu mampu bermain lompat tali sambil bernyanyi tentang matahari pagi. Kenapakah tak ada lagu tentang si anak gembala, naik-naik ke puncak gunung, pelangi-pelangi? Apakah anak-anak sudah tidak bisa lagi menikmati dunia seperti itu saat ini?

Sepuluh tahun lalu, saya memperhatikan tayangan sinetron di rumah paman di Bekasi. Saat itu, saya merasa bahwa akan segera dimulai babak baru sinetron kita: Eksploitasi dunia anak-anak sekolah. Isinya mengenai cinta monyet mereka, kehidupan gelamor yang orang tua mereka sediakan, serta remeh temeh relasi kuasa sosial-ekonomi diantara anak-anak seusianya. Saat itu memang masih gambaran cerita anak-anak SMA. Saya memperkirakan, tentulah tema ini akan merembet ke dunia anak SMP setelah sebelumnya berhasil dengan pencitraan dunia kampus. Ternyata analisa saya malah kurang lengkap. Justru saat ini sinetron itu telah memperkosa logika berpikir anak-anak SD. Ah... rupanya dunia anak saat ini sudah terbentuk oleh tayangan-tayangan TV.

Di kota-kota besar macam Jakarta, orang tua sibuk bekerja. Berangkat pagi dan pulang nyaris di tengah malam. Seorang anak bimbingan istri saya menjalani hidup seperti ini. Pagi hari, saat ia masih lelap diselimuti embun pagi, dan matahari belum lagi meninggi, Papa dan Mamanya telah berangkat bekerja. Di saat ia tengah lelap ditemani sang rembulan yang terang, Papa dan Mamanya baru pulang. Semua kebutuhan telah lengkap tersedia. Di kamarnya tersedia TV kabel. Kaset-kaset yang ia miliki juga lengkap lagu-lagu yang lagi tren saat ini. Tentu saja, lagunya bertemakan cinta sepasang manusia, bukan cinta dari Papa-Mama terhadap anak-anaknya.

Dalam keributan RUU Pornografi yang berlangsung sejak 2006 lalu, bagi saya tetap ada kebutuhan untuk mengatur segala kepornoan yang berlangsung di Indonesia. Di negeri sekuler macam Amerika hal semacam itu diatur dengan tegas. Seorang perempuan asal Indonesia memasuki sebuah toko. Di salah satu sudut toko itu ada tempat khusus menjual Sex Toys dan majalah-majalah porno. Sekian lama ia bersama suami dan anak-anak tinggal di negeri sekuler ini, baru kali ini ia mencoba memasuki wilayah khusus dewasa itu. Setelah meminta izin suaminya, menggendong bayinya, ia mencoba memasuki ruang itu. Si penjaga ruangan langsung mencegahnya masuk. "Anda boleh masuk jika anak itu telah berusia 18 tahun," kata si penjaga. Begitulah, ranah porno yang untuk orang dewasa dengan tegas dibedakan dengan ranah khusus untuk anak-anak.

Berbeda dengan di Indonesia. Majalah-majalah dalam kategori untuk orang dewasa, serta tabloid dan koran yang menjual hasrat selangkangan dengan mudah didapat di pinggir-pinggir jalan sampai toko-toko buku. Jika suasana porno itu dirasakan oleh semua usia, entah bagaimana pula cara membedakan antara dewasa dan anak-anak selain fisiknya. Birahi anak dan orang dewasa tak jelas batasnya.

Anak-anak yang saya lihat di panggung pertunjukan di Taman Mini hari Ahad yang lalu, adakah mereka tahu bahwa kehidupan mereka telah diperkosa tren gaya hidup yang disajikan televisi, yang dirancang sang penguasa modal untuk selalu menghadirkan segala hal "terkini", dan membuat mereka selalu merasa bangga dielu-elukan banyak temannya? Berlomba seperti banyaknya ilmuan di tanah air yang tetap ingin terlihat pintar dan intelek namun harus juga terkenal seperti artis yang banyak muncul di TV atau lembar opini berita hari ini?

Maafkan, saya lupa saya sudah bukan lagi anak-anak. Mungkin saja saya salah tidak merancang anak saya seperti anak-anak yang begitu ceria bernyanyi tentang kisah cinta sepasang anak manusia. Sudahlah, saya salah. Mohon pencerahannya Bapak, Ibu, Om, Tante...

Baca selengkapnya....

Blogger Templates by Blog Forum