Herman

Anak kami sudah dua

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Anak kami sudah dua, dan dua hari lalu kami merayakan kehadiran anak-anak kami yang sudah menginjak usia 6 tahun dan 2 tahun. Laki-laki semua. Zahid lahir pada 1 Juli 2005 dan adiknya lahir pada 2 Juli 2009.

Allah SWT mendengarkan doa saya. Sejak kelahiran Zahid, saya dan Naning telah berencana untuk menjarangkan kelahiran anak kami berikutnya. Kami ingin supaya kami dapat memenuhi kebutuhan keluarga dengan lebih aman secara ekonomi. Kami faham bahwa keluarga belum begitu mapan. Bukan kami tak yakin bahwa rezeki sudah ditentukan oleh Sang Maha Kaya. Lebih kepada mengelola keluarga saja.

Di hampir setiap doa yang saya panjatkan setiap habis sembahyang selalu saya mohonkan kepada Sang Khalik supaya anak kami dijarangkan kelahirannya paling tidak 4 tahun sekali. Pada saat Zahid sudah berusia 2 tahun, Naning ingin sekali memiliki anak lagi. Ia bilang, mumpung masih muda, sebab kalau usia sudah di atas 30 tahun kurang baik seorang ibu melahirkan lagi. Kontrasepsi yang dijalani yang digunakan saat itu masih untuk istri. Tapi pada akhirnya saya memahami kalau itu tidak baik, sebab bagaimana pun kontrasepsi dalam bentuk suntikan itu juga merupakan benda asing yang sangat tidak baik untuk tubuh perempuan. Terbukti, saat kontrasepsi ini dihentikan supaya Zahid segera punya adik, Naning mengalami menstruasi tidak teratur. Pendarahan bahkan flek terjadi. Saya merasa bersalah. Semestinya yang menggunakan kontrasepsi adalah saya selaku laki-laki.

Hampir setahun kami berusaha. Konsultasi dokter ahli memakan tak sedikit biaya. Tapi namanya juga usaha. Alhamdulillah berkat usaha dan doa kami, orang tua dan orang-orang sekeliling yang sangat mencintai kami, akhirnya Naning hamil juga. Di masa-masa awal kahamilan tidak banyak kendala selain Naning yang diminta untuk tidak memforsir diri dalam bekerja.

Memasuki
bulan ketujuh usia kandungan, kehamilan Naning mulai mengkhawatirkan. Berat badan calon adiknya Zahid dinilai dokter kurang dari seharusnya. Mesti dinaikan lagi. Hamil memang hal mudah bagi perempuan. Kadang diterpa malas makan makanan tertentu yang justru baik untuk calon anak di kandungan. Atau kecape'an dan hal-hal lainnya. Sesuai saran dokter, es krim jadi sering dikonsumsi. Juga asupan-asupan lain supaya bayi kami lahir dengan sehat. Kami beruntung, dokter yang memeriksa kahamilan secara rutin adalah orang tua murid Naning. Dokter ini baik sekali. Sampai usia kehamilan 8 bulan, pemeriksaan secara lebih teliti dilakukan. Bahkan ketika tempat praktik di kediaman dokter tidak memiliki USG 4 dimensi, kami pun diminta datang ke tempat praktiknya yang lain di sebuah rumah sakit besar di Jakarta Pusat.

Pemeriksaan USG 4 dimensi menguatkan pendapat dokter kalau anak kedua kami harus segera dikeluarkan meski usianya belum 9 bulan di dalam kandungan. Tidak ada pilihan lain karena air ketuban pun sudah mulai berkurang. Naning masih bersikukuh kalau anak kami akan lahir dengan sehat. Doa ditambah, shalat diperpanjang, mengaji pun lebih dari biasanya. Istri saya yang begitu solihah menyerahkan semuanya pada kuasa Allah SWT. Saya terpana.

Pada akhirnya, dokter meminta kami datang untuk memeriksakan kandungannya sekali lagi ke sebuah rumah sakit di daerah Cibubur. Setiba di sana pada malam hari di tanggal 1 Juli 2009, dokter memutuskan kalau anak kedua kami harus segera dikeluarkan. Semua bidan dan perawat di rumah sakit bersiap siaga. Naning tetap memilih untuk melahirkan secara normal, bukan operasi caesar.

Dokter masih mengusahakan supaya kelahiran ini tidak melalui operasi. Pada malam itu akhirnya mulai pasang balon melalui jalan lahir sebab bukaannya tidak bertambah besar. Rasanya sakit sekali. Pedih. Naning menangis. Seperti pemeriksaan sebelumnya, Naning mengalami pucat dan badan lemas. Bantuan oksigen diberikan. Hingga besok paginya, sakit terus bertambah. Jalan lahir semakin besar.

Pagi itu, hari kedua di bulan Juli 2009, rasa sakit yang Naning rasakan ada hasilnya. Anak kami lahir juga meski dengan susah payah. Alhamdulillah lahir dengan selamat. Saya menyaksikan langsung. Lengan saya ikut sakit karena menjadi pegangan Naning selama ia merasakan kesakitan. Luar biasa penderitaan seorang ibu ketika melahirkan. Karena itu pula barangkali agama Islam mewajibkan seorang anak untuk sangat menghormati ibunya. Posisi Ibu bahkan lebih mulia daripada ayah menurut Rasullullah SAW.


Anak kedua kami lahir pada 2 Juli 2009. Adik dari Izzuddin Zahid Muhammad Rasyiq ini kami namai Muhammad Ziyadh Al Fatih. Dalam keluarga Saya dan Naning tidak ada ritual perayaan ulang tahun. Tapi tanggal 3 Juli lalu Naning mengajak saya untuk menyenangkan anak-anak kami. Hari itu hari Sabtu. Saya dan Naning libur kerja. Kami merayakan kebahagiaan kami karena kehadiran dua anak kami ini. Sebuah pusat belanja yang ada permainan untuk anak-anak, juga restoran dengan motto "Rasa bintang lima, harga kaki lima" yang tak seberapa jauh dari kediaman kami, menjadi tempat perayaan sederhana itu.

Kami berdoa, semoga kehidupan kami selalu bahagia. Amin.

Baca selengkapnya....
Herman

Berkenalan dengan Pilot Mandala Air

Sepanjang perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta hingga ke Bengkulu, anak pertamaku ini tidak bisa berhenti bicara. Banyak tanya dan banyak komentar. Hal semacam ini sering membuatku kelabakan kalau tak siap untuk meladeni semua muntahan pertanyaan dan komentarnya tentang apapun. Ibarat senapan serbu tentara a la film Rambo di tahun 80-an: tak henti-henti. Ia ingin tahu, di tengah hujan lebat kenapa pesawat yang meluncur cepat untuk take off seperti mengeluarkan asap yang begitu banyak di belakangnya. Atau, kenapa kami harus naik bis menuju pesawat yang sedang parkir agak jauh dari tempat boarding? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Zahid memang aktif nogoceh sejak ia mulai bisa bicara pada usia setahun. Aku ingat, pada saat baru pindah kontrakan yang kami tempati sekarang, tetangga se-RT banyak yang memperhatikan kami berdialog. Mungkin aneh bagi mereka ada anak setahunan sudah banyak berdialog seperti orang dewasa. Pernah saat baru beberapa hari menempati rumah tinggal ini, seorang tetangga memperhatikan dari loteng rumahnya. Kami yang sedang jalan-jalan pagi tak menyadari kalau ada yang memperhatikan.

Di pesawat sepanjang penerbangan menuju Bengkulu, pertanyaan-pertanyaan dan komentar Zahid menarik perhatian pramugari. Aku sendiri harus menjelaskan banyak hal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan. Sebenarnya, Zahid sudah dua kali pulang ke Bengkulu. Pertama saat ia masih berusia setahun pada Agustus 2006. Kedua, saat lebaran tahun 2007 ketika usianya menginjak dua tahun. Ia tidur saat di pesawat hingga ia pun belum pernah mengamati awan, langit dan segala hal di pesawat saat sedang terbang. Mudik kali ini membuatnya memiliki kesempatan untuk mengetahui banyak hal saat berada di langit.

Saat landing di bandara Fatmawati Bengkulu, aku sengaja mengajak Zahid beranjak dari tempat duduk kami supaya bisa menjelaskan tentang tempat pilot bekerja serta menyapa pramugari yang bertugas di pewasat. Mendekati pintu keluar di bagian depan, kusampaikan ke salah satu pramugari kalau Zahid ingin tahu tempat pilot 'menyetir' pesawat. Tak dinyana, pramugari justru langsung menghubungi pilot dan mengenalkan Zahid padanya. Zahid masuk ke kokpit di mana pilot berada. Pilotnya yang bernama Kapten Agus justru senang berkenalan dengan Zahid.

"Mau foto gak?" tanya pilot itu sambil membuat gerakan seperti sedang memotret ke arahku. Dengan nada sedikit menyesal kusampaikan kalau sedang tak membawa kamera.

"Sayang banget, belum tentu loh pilotnya mau berbaik hati begini...." kata pramugarinya.

Yup, aku memahami bagaimana pilot tentunya akan menghindari hal semacam perkenalan dengan anak kecil yang banyak ingin tahu macam Zahid ini. Tentunya langka pilot yang mau meluangkan waktu kerjanya. Kesempatan langka yang diperoleh Zahid ini sangat mungkin karena si pramugari mengamati Zahid yang terus bicara sejak awal naik pesawat. Karena keingintahuan Zahid untuk tahu kokpit yang jadi tempat pilot bekerja, maka pramugari langsung mengenalkannya kepada pilotnya.

Aku memahami cerita pramugari itu kalau jarang sekali pilot mau berkenalan, berdialog, dan mau berfoto dengan anak kecil seperti Zahid. Tapi, apa boleh buat, perkenalan Zahid dan pilot Mandala Air itu tak dapat diabadikan dengan foto. Demi kepraktisan barang bawaan, kamera digital tak kubawa.

"Ada kamera Bucik Neng, jadi kamera kita tak pelu dibawa" kata istriku saat menyiapkan segala sesuatu sebelum berangkat menuju bandara.

Setibanya di rumah Nenek dan Datuk, aku ceritakan pada Bucik Neng tentang pengalaman Zahid tadi. Juga menelpon ibunya di rumah di Bogor. Semuanya merasa 'eman' kenapa perkenalan Zahid dengan pilot serta kesempatan masuk ke kokpit tidak difoto. Ya... jadi pelajaran saja, lain kali mesti bawa kamera untuk mengabadikan pengalaman anak.

Sangat mungkin, pengalaman masa kecil memiliki arti yang luar biasa bagi anak kita pada masa mereka telah dewasa. Tak terkecuali pengalaman Zahid saat ikut aku pulang ke Bengkulu pada 24 - 26 Januari 2010 lalu.

Baca selengkapnya....
Herman

Resolusi 2010

Terus terang, selama 3 tahun belajar menjadi seorang blogger, belum pernah sekalipun aku menuliskan Resolusi untuk menyambut tahun baru. Agenda, harapan, ataupun impian banyak muncul di blog teman-teman lain. Sungguh sesutu yang menurutku sangat luar biasa. Kenapa? Karena menuliskan resolusi berarti membulatkan tekad dan mengupayakan dengan gigih harapan dan impian di masa yang akan datang.

Sekarang saatnya bagiku mengikrarkan resolusi pada tahun 2010:

1. Melanjutkan studi.

Terus terang, telah 7 tahun menyelesaikan sekolah di tingkat sarjana dan setelahnya bekerja, aku merasakan perbedaan yang luar biasa. Jika di bangku kuliah ada banyak konsep yang kudapatkan untuk memahami realitas, maka di dunia nyata aku menghadapi realitas yang sudah banyak berbeda dengan konsep. Antara keduaya, ada dialektika yang harus dipahami, ada kompromi yang harus dijalani, dan banyak lagi hal yang menggambarkan betapa kehidupan dijalani dengan pertarungan-pertarungan.

Melanjutkan studi menjadi agendaku pada 2010. Saat ini aku sedang menjalani proses seleksi beasiswa dengan harapan dapat sekolah lagi di Eropa. Seperti terkena sindrom Laskar Pelangi si Andrea Hirata. Selain itu, jika tak lulus, ada beberapa beasiswa yang sedang aku "incar", antara lain kembali ke Kampus Biru dengan program internasional yang memiliki keragaman latar belakang mahasiswa yang tak hanya dari Indonesia. Di kampusku dulu itu ada 2 beasiswa yang menjadi targetku. Satunya hanya belajar di Yogyakarta serta satu lagi separoh belajar di luar negeri selama setahun serta setahunnya menyelesaikan tesis di tanah air. Semua ilmu yang akan kupelajari masih terkait erat dengan bidang pekerjaan yang kutekuni saat ini: Hak Asasi Manusia.

Tak sedikit orang yang apatis pada pendidikan karena tak banyak membuat perbaikan pada kondisi bangsa Indonesia. Namun ada banyak pula orang gila sekolah tinggi-tinggi hanya untuk mendapatkan gaji setinggi-tingginya sehingga bisa kaya untuk diri dan keluarganya. Aku, bersekolah mengkompromikan keduanya. Aku butuh uang lebih banyak karena kebutuhan pokok hidup di Jabodetabek, terus terang, tidak lagi dapat terpenuhi dengan baik oleh instansi tempatku bekerja. Juga, ilmu pengetahuan perlu terus diasah dan ditambah supaya peranku sebagai bagian dari gerakan perubahan bisa jadi lebih bermanfaat.

Selain itu, kondisi Jakarta baik secara sosial maupun fisik jelas telah membuat daya tahan tubuhku sering melemah. Kata dokter, polusi dan stress menjadi penyebabnya. Olahraga lari pagi sekitar 2 - 3 kali sepekan lumayan membantu. Namun sebenarnya aku sendiri ingin beristirahat sekitar 2 tahun, mengungsikan diri dari keramaian Jakarta. Terbukti, awal bulan lalu, aku kembali ke Yogya beberapa hari, badan terasa ringan. Yang pasti, karena udara di sana lebih bersih dari pada di sini.

Itulah beberapa alasanku ingin melanjutkan sekolah.


2. Mendapatkan pekerjaan baru.

Terus terang, sulit sekali bagiku saat ini untuk memenuhi kebutuhan keluarga jika tetap bertahan dengan pekerjaan yang sekarang kujalani. Gaji yang kuterima sudah tidak cukup lagi.

Berjuang untuk kemanusiaan merupakan hal yang menantang bagiku, baik segi keilmuan maupun segi tanggung jawab moral bagi orang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di negeri ini. Semua orang seharusnya memiliki peran dalam perjuangan ini. Sekecil apa pun, tetaplah peran itu merupakan bagian dari sebuah kesatuan gerak untuk perubahan. Aku teringat cerita seorang teman yang mengikuti satu pertemuan aktivis gerakan perempuan di Jakarta. Di sana, panitia menghadirkan sebuah komunitas perempuan pecinta Open Source. Pada sesi dialog terbuka bagi semua yang hadir, ternyata komunitas ini tak menyadari apa yang mereka lakukan dapat menjadi satu gerakan yang bersinergi
dengan--bahkan menjadi bagian--gerakan perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender serta pemenuhan hak asasi perempuan. Inilah persoalan sesungguhnya: kesadaran masyarakat masih harus terus dibangkitkan.

Sulitnya kondisiku bekerja di instansiku sekarang, antara lain karena aku terikat jam kerja dari pukul 09.00 - 17.00 wib. Belum lagi waktu tempuh dari rumah tinggal di Kab. Bogor sana yang karena kemacetan semakin parah memakan tak kurang dari 4 jam pulang dan pergi. Itu pun kalau dalam kondisi normal. Dalam kondisi di luar normal bisa memakan waktu lebih dari 5 jam. Kalau sudah begitu, dengan load pekerjaan yang cukup banyak, jelas tak mungkin bagiku mencari penghasilan tambahan. Kecuali kalau mau korupsi waktu, mengerjakan pekerjaan di luar kepentingan lembaga. Jalas, hampir tidak mungkin itu aku lakukan.

Pekerjaan dengan penghasilan lebih baik dari sekarang dengan tetap berperan dalam sosial kemasyarakatan adalah resolusiku tahun 2010 ini. Tentunya selain melanjutkan sekolah.

Aku berharap, resolusi ini akan terwujud. Amin.

Baca selengkapnya....
Herman

Ragam Pitulasan

Ada banyak cara untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia setiap tahunnya. Mulai dari melakukan kontemplasi dan diskusi tentang perkembangan bangsa dan negara ini sejak 17 Agustus 1945 hingga sekarang, menyelenggarakan berbagai pertandingan dan perlombaan untuk bersuka ria sebagai bangsa yang telah "merdeka", bahkan ada yang menganggapnya biasa-biasa saja.

Di lingkungan tempat tinggal saya, desa Ciangsana, Gunung Puteri, Kabupatern Bogor, seperti biasanya ada perayaan dengan pertandingan dan perlombaan, serta panggung hiburan kesenian. Di RW 02 tempat kami tinggal, puncak acara peringatan hari kemerdekaan ini berlangsung pada 16 Agustus lalu, yang kebetulan bertepatan dengan hari Minggu. Pada sore hari dengan matahari yang masih terik, masyarakat dari RT 01 hingga RT 11 menyertai anak-anak yang berlomba pawai mengelilingi separoh komplek perumahan yang menjadi wilayah RW 02.

Pawai dilakukan dengan rombongan dari masing-masing RT berbaris menurut urut RT di jalan utama sebelah selatan yang terletak di wilayah RT 11. Pawai ini sesungguhnya diikuti anak-anak dari usia sekitar 3 tahun hingga usia SMA. Mereka berbaris dengan atribut pakaian yang beraneka macam, dari pakaian adat maupun seragam putih-putih, dari yang membawa cangkul a la seorang petani dengan kumis palsu menghiasi, kebaya, bahkan dengan sepeda hias dan seragam tentara seperti anak saya dan beberapa temannya sebagaimana permintaan panitia di RT. Orang tua hanya mengiringi barisan, terutama untuk mengawasi anak-anaknya yang masih kecil yang kemungkinan sulit untuk diarahkan dan tentunya akan membuat kacau barisan. Acara ini menjadi kesempatan saling menyapa antartetangga bahkan sesama orang tua yang berlainan RT. Satu bentuk suka cita karena ada kemeriahan di komplek perumahan. Entah mengapa, keramaian sejak dulu selalu merupakan satu hal yang teramat disukai. Seperti suasana keheningan desa yang ditinggalkan para pemudanya karena lebih memilih keramaian di kota-kota.

Di saat semua peserta pawai dari masing-masing RT merapihkan barisannya, satu kelompok kesenian Reog memainkan atraksi tari-tariannya. Kebanyak penghuni kawasan kami berasal dari Jawa termasuk Jawa Timur. Pertunjukan Reog menjadi hiburan menarik buat semua yang hadir. Kabar beberapa waktu lalu yang menyebutkan kalau Reog diakui oleh pemerintah Malaysia sebagai kesenian asli dari mereka telah membuat berang warga Ponorogo yang merupakan asal kesenian ini. Masyarakat Indonesia pun merasa tersentil rasa kepemilikan kesenian yang memang belakangan kurang mendapat perhatian. Reog mendapat sambutan hangat pada perayaan kemerdekaan tahun ini di tempat tinggal kami.

Setelah melewati jalan-jalan pinggiran hingga ke tengah perumahan, acara pawai diakhiri di dekat gerbang masuk komplek kami. Di sana, bersebelahan dengan pos satpam, terdapat lapangan bola volly. Pertunjukkan reog diteruskan untuk menghibur semua penonton yang mengelilingi lapangan. cukup ramai. Bahkan di salah satu sisi lapangan adalah tebing yang berbatasan dengan pemukiman penduduk desa sebelah perumahan dipenuhi oleh mereka yang menonton dengan leluasa ke seluruh lapangan. Di sela-sela pertunjukan reog itu pula diumumkan para pemenang berbagai macam lomba dan pertandingan di tingkat RW, mulai dari pertandingan bulu tangkis, bola volly, catur, futsal, lomba mewarnai untuk anak-anak, dan bentuk kompetisi lainnya, yang sudah terselenggara sejak awal Juli lalu. Perlombaan pawai menjadi penutup acara sesorean itu. Setelah semua hadiah di selesai dibagikan, para pemain reog mulai mengusung semua peralatan kembali ke rumah. Semua peserta pawai, anak dan orang tua juga mulai bergerak pulang. Anak-anak senang, meski tak menang ada hadiah makanan dan minumana ringan disediakan oleh panitia penyelenggara di tingkat RT.

Pada sore hari esoknya, 17 Agustus, ada perlombaan di tingkat RT 08 tempat kami tinggal. Semua anak-anak dikumpulkan untuk berbagai macam perlombaan: membawa kelereng dalam sendok, makan pilus dalam sebuah piring, mengambil uang logam yang menempel pada buah semangka, memecah balon yang berisi air dengan menggunakan jarum, memasukkan pensil ke dalam botol dan beberapa permainan lainnya.

Acara perayaan kemerdekaan ini melahirkan berbagai hiburan tahunan dalam masyarakat. Berbagai macam perlombaan dan pertandingan menjadi tontonan menarik, juga menjadi ajang menunjukkan kemampuan pengusaan permainan tertentu. Tapi, ada yang luput kami tonton kali ini, yakni perlombaan panjat pinang. Perlombaan ini hampir selalu ada di setiap daerah. Semakin tahun terlihat semakin menarik saja hadiahnya. Sayang, karena harus mencari semangka kesukaan anak kami, hiburan satu ini jadi terlewati.

Baca selengkapnya....
Herman

Wakil Rakyat

Memiliki anak yang sedang lucu-lucunya memang satu hal yang membahagiakan. Saya mengalaminya. Kelucuan dalam dialog-dialog saya dengan Zahid maupun Zahid dan ibunya seringkali terjadi. Pertanyaan-pertanyaan yang lahir dari rasa ingin tahu anak terhadap sesuatu memang harus dijawab dengan hati-hati, seperti kebanyakan pakar parenting selalu katakan. Masa 5 tahun pertama usia yang katanya adalah golden age, memang betul-betul menunjukkan kepada kami sebagai orang tua bahwa anak mampu menyerap apapun yang ia ketahui dari luar dirinya.

Tiga hari lalu Zahid menyanyikan salah satu lagu Iwan Fals: Wakil Rakyat. Entah dari mana ia mendengarkan lagu ini, karena seingat saya sekitar dua hingga tiga tahun terakhir saya nyaris tak pernah memutar lagu-lagu penyanyi idola saya itu di rumah. Hari itu Zahid menyanyi:

Wakil Rakyat seharusnya merakyat
jangan tidur waktu sholat...


Saya tertegun dan tertawa sendiri. Lirik pertama itu disuarakan persis sama seperti Iwan Fals menyanyikan. Tetapi lirik "jangan tidur waktu shalat" adalah sesuatu yang baru pertama kali saya dengar.

Minggu pertama hingga ketiga Maret lalu, karena tak ada pengasuh di rumah, Zahid pulang ke desa mbahnya di Boyolali. Saya memperkirakan, kemungkinan ia mendengarkan lagu Iwan Fals yang di putar oleh Pakliknya di sana. Dan belakangan ini di saat menjelang pemilu, radio di rumaha kami--maaf, kami tak memiliki TV--memang sering menyiarkan perkembangan calon wakil rakyat yang sedang berkompetisi. Dari sanalah kemungkinan besar lagu Wakil Rakyat itu dirubah sendiri oleh anak kami.

Semoga wakil rakyat yang terpilih saat pemilu esok pagi betul-betul mewujudkan wakil rakyat tak hanya yang tidak tidur waktu sidang, namun juga tidak tidur waktu shalat. Amin.

Keterangan: foto gedung DPR/MPR bersumber dari sini.

Baca selengkapnya....

Blogger Templates by Blog Forum